1,5 tahun mungkin sudah
berlalu sejak saya di sini. Kembali menginjakkan kaki lagi di tanah Ujung
Pandang. Kota besar yang menjadi salah satu tujuan pada pemuda dan pemudi
menuntut ilmu dan menggapai masa depan yang lebih baik...katanya. Ya...saya di
sini juga. Sama dengan tujuan mereka. Mencari ilmu kembali untuk masa depan
yang lebih baik. 1, 5 tahun lalu saya kembali ke sini tidak sendiri seperti
dulu, tetapi dengan seorang sahabat sekaligus saudara beda orang tua. Teman
seperjuangan yang menemani. Yang bahkan saya pun tak menyangka persahabatan
kami yang tumbuh tanpa sengaja dan terjalin sejak kami di bangku SMA sampai di
tempat kerja. Sahabat yabg selalu ada saat dibutuhkan. Bukan hadir hanya pada
saat bahagia saja tetapi juga pada saat. Saya dan dia kembali menginjakkan kaki
di tanah Ujung Pandang dengan visi yang sama, tentunya untuk masa depan yang
lebih baik. Saya dan dia akhirnya mendapat kesempatan untuk melanjutkan
pendidikan strata dua di sebuah kampus yang bisa dibilang sangat populer di
Ujung Pandang. Alhamdulillah kami bisa lolos dengan menyisihkan para pendaftar
yang lain dengan mengikuti ujian seleksi. Sebenarnya ini bukan kali pertama
saya dan dia mendaftar dan mengikuti ujian di kampus ini. Ini adalah pendaftaran
dan tes kami yang kedua kalinya. Yang pada akhirnya kami gagal pada
tahun sebelumnya. Tapi
kami tidak menyerah,
tahun 2014 kami
mencoba lagi dan Alhamdulillah kami berdua lulus. Senang
dan bangga rasanya saya dan dia bisa lulus bersama lagi. Bulan- bulan dilewati
dengan suka dan duka menjadi seorang mahasiswa lagi dikampus yang berbeda dan
bertemu dengan orang-orang yang berbeda lagi. Saya dan dia melaluinya dengan
penuh sukacita selama hampir 1 tahun lebih.
Tapi apa yang digariskan
Tuhan tidak dapat dihindari. Sang pencipta sudah menuliskan takdirnya untuk
dia. Tepat akhir semester ke dua kabar yang datang di selasa pagi 11 Agustus
2015 pukul 07.45 nada dering handphoneku terdengar dan membangunkan saya. Nomor
ponsel yang tertera di layar handphoneku sangat tidak asing. Ya...pagi itu
salah satu temanku yang juga kekasihnya menelponku menyampaikan kabar duka itu.
Dia pergi di subuh itu bersama dengan tante yang juga ibu angkatnya dan juga kakak
iparnya. Dia mengalami kecelakaan ketika hendak menuju Makassar. Pagi itu
rasanya tulang tulangku seperti tak
berbentuk. Hatiku benar benar hancur
berkeping-keping. Rasanya jiwa
hilang entah
kemana. Aku menangis
sejadi-jadinya. Tak ada satupun
pesan yang dia berikan padaku.
Tak ada satupun tanda yang dia nampakkan
padaku. Bahkan malam sebelum
kejadian naas itu kami masih sempat berkomunikasi via telepon sambil bercanda
dan tertawa bersama. Saya yang masih
di Makassar malam
itu menunggu kedatangannya dari Bulukumba
selasa pagi karena kami janjian
akan bertemu lagi di kampus dalam minggu itu. Tapi takdir berkata
lain. Dia benar-benar telah
pergi menuju alam keabadian dengan
meninggalkan sejuta kenangan
yang indah untuk persahabatan
kami. Persahabatan yang dimulai tanpa sengaja. Persahabatan yang bertahan
hingga hampir 8 tahun lamanya tanpa pernah kami berpisah jauh dalam waktu
maupun tempat. Kami yang selalu bersama. Melakukan hal bersama-sama.
Berpetualang dan ngebolang bersama. Dia bukan sekedar sahabat tapi juga
saudara.
Kini setengah tahun sudah kepergianmu
sayang. Rasanya seperti baru kemarin kita bersama dan seperti kemarin juga
rasanya kau pergi secara tiba-tiba. Tapi disetiap sujudku selalu kutitipkan
rindu dan doa untukmu. Semoga kita kelak akan kembali bertemu di JannahNya.
Salan rindu dan sayang untukmu sahabat terbaikku "Hafidah Saleh".
Alfatihah...
Makassar 11 Maret
2016
![]() |
| foto ini diambil saat mengurus berkas saat mendaftar kuliah S2 di Unhas |
