Kamis, 04 Juli 2019

Rinduku Untukmu....



1,5 tahun mungkin sudah berlalu sejak saya di sini. Kembali menginjakkan kaki lagi di tanah Ujung Pandang. Kota besar yang menjadi salah satu tujuan pada pemuda dan pemudi menuntut ilmu dan menggapai masa depan yang lebih baik...katanya. Ya...saya di sini juga. Sama dengan tujuan mereka. Mencari ilmu kembali untuk masa depan yang lebih baik. 1, 5 tahun lalu saya kembali ke sini tidak sendiri seperti dulu, tetapi dengan seorang sahabat sekaligus saudara beda orang tua. Teman seperjuangan yang menemani. Yang bahkan saya pun tak menyangka persahabatan kami yang tumbuh tanpa sengaja dan terjalin sejak kami di bangku SMA sampai di tempat kerja. Sahabat yabg selalu ada saat dibutuhkan. Bukan hadir hanya pada saat bahagia saja tetapi juga pada saat. Saya dan dia kembali menginjakkan kaki di tanah Ujung Pandang dengan visi yang sama, tentunya untuk masa depan yang lebih baik. Saya dan dia akhirnya mendapat kesempatan untuk melanjutkan pendidikan strata dua di sebuah kampus yang bisa dibilang sangat populer di Ujung Pandang. Alhamdulillah kami bisa lolos dengan menyisihkan para pendaftar yang lain dengan mengikuti ujian seleksi. Sebenarnya ini bukan kali pertama saya dan dia mendaftar dan mengikuti ujian di kampus ini. Ini adalah pendaftaran dan tes kami yang kedua kalinya. Yang pada akhirnya kami gagal  pada  tahun  sebelumnya.  Tapi  kami  tidak  menyerah,  tahun  2014  kami  mencoba  lagi  dan Alhamdulillah kami berdua lulus. Senang dan bangga rasanya saya dan dia bisa lulus bersama lagi. Bulan- bulan dilewati dengan suka dan duka menjadi seorang mahasiswa lagi dikampus yang berbeda dan bertemu dengan orang-orang yang berbeda lagi. Saya dan dia melaluinya dengan penuh sukacita selama hampir 1 tahun lebih.
Tapi apa yang digariskan Tuhan tidak dapat dihindari. Sang pencipta sudah menuliskan takdirnya untuk dia. Tepat akhir semester ke dua kabar yang datang di selasa pagi 11 Agustus 2015 pukul 07.45 nada dering handphoneku terdengar dan membangunkan saya. Nomor ponsel yang tertera di layar handphoneku sangat tidak asing. Ya...pagi itu salah satu temanku yang juga kekasihnya menelponku menyampaikan kabar duka itu. Dia pergi di subuh itu bersama dengan tante yang juga ibu angkatnya dan juga kakak iparnya. Dia mengalami kecelakaan ketika hendak menuju Makassar. Pagi itu rasanya tulang tulangku seperti tak berbentuk. Hatiku benar benar hancur  berkeping-keping.  Rasanya  jiwa  hilang  entah  kemana.  Aku  menangis  sejadi-jadinya.  Tak  ada satupun pesan yang dia berikan padaku. Tak ada satupun tanda yang dia nampakkan padaku. Bahkan malam sebelum kejadian naas itu kami masih sempat berkomunikasi via telepon sambil bercanda dan tertawa bersama. Saya yang masih di Makassar malam itu menunggu kedatangannya dari Bulukumba selasa pagi karena kami janjian akan bertemu lagi di kampus dalam minggu itu. Tapi takdir berkata lain. Dia benar-benar telah pergi menuju alam keabadian dengan meninggalkan sejuta kenangan yang indah untuk persahabatan kami. Persahabatan yang dimulai tanpa sengaja. Persahabatan yang bertahan hingga hampir 8 tahun lamanya tanpa pernah kami berpisah jauh dalam waktu maupun tempat. Kami yang selalu bersama. Melakukan hal bersama-sama. Berpetualang dan ngebolang bersama. Dia bukan sekedar sahabat tapi juga saudara.
Kini setengah tahun sudah kepergianmu sayang. Rasanya seperti baru kemarin kita bersama dan seperti kemarin juga rasanya kau pergi secara tiba-tiba. Tapi disetiap sujudku selalu kutitipkan rindu dan doa untukmu. Semoga kita kelak akan kembali bertemu di JannahNya. Salan rindu dan sayang untukmu sahabat terbaikku "Hafidah Saleh". Alfatihah...

Makassar 11 Maret 2016

foto ini diambil saat mengurus berkas saat mendaftar kuliah S2 di Unhas



Tidak ada komentar:

Posting Komentar